“Ikal, Bapakku memiliki anak 4 bersaudara, dan aku anak laki-laki pertama & satu-satunya!
Semestinya aku menemani Bapak melaot!
Tapi Bapakku ingin aku disni, sekolah! Bermimpi & Mengejar cita-cita!
Kita harus tetap sekolah Kal! Mengejar cita-cita!” Lintang
Itulah Lintang, sosok anak kampung pesisir dan miskin yang jenius hasil didikan alam, namun memiliki tekad, kemauan dan semangat yang luar biasa untuk mengejar cita-cita. Lintang tidak pupus semangat bersekolah walau harus menempuh jarak 40 kilometer setiap harinya dengan bersepeda, bahkan nyaris diterkam buaya!
Sosok Lintang adalah realita dan nyata keberadaannya, dia bukan tokoh rekaan Andrea Hirata dalam novelnya “Laskar Pelangi”. Lintang adalah sosok manifestasi anak manusia yang mampu memandang jauh menerobos sisi kehidupannya yang menyedihkan. Dari Lintang kita sadar, Tidak semestinya kemiskinan menghalangi seseorang untuk bercita-cita dan berjuang untuk mewujudkannya, tidak semestinya keterbatasan menghalangi untuk berani bermimpi dan merubah harapan serta angan menjadi kenyataan. Lintang adalah buktinya! Semangatnya mampu menegaskan ke seluruh anak manusia, “Beranilah bermimpi dan berjuanglah untuk mewujudkannya! Apa dan bagaimanapun kita..”
Kini, semangat Lintang, Ikal, dan seluruh “Laskar Pelangi” telah menyebar keseluruh negeri dan menyadarkan kita untuk jangan lagi mengeluh dan menyia nyiakan kesempatan, sementara dibagian lain negeri ini terdapat anak-anak yang terbatas dari semua sisi namun tidak pernah merasa “terbatas”, bagi mereka kesempatan adalah anugerah dari Tuhan dan semangat untuk berjuang merupakan percikan ruh ilahi untuk menggapai cita-cita.
Aceh tak ubahnya seperti Belitong tempat para Laskar Pelangi memulai cerita. Negeri yang kaya akan sumber alam, namun juga negeri yang paling sedikit menikmati hasil dari tanah moyang nya. Mungkin terdapat puluhan “Laskar Pelangi” tersebar di tanah rencong ini, puluhan anak yang hidup dalam keterbatasan namun ingin mengecapkan jenjang pendidikan, puluhan anak yang terpaksa bekerja dalam usianya yang belia, dimana semestinya pada seumur mereka duduk di kelas dan belajar alif – ba – ta.
Film “Laskar Pelangi” seakan menampar muka kita sendiri, dan menyodorkan pertanyaan, sudahkah kita berbuat untuk membantu puluhan “Laskar Pelangi” yang ada di tanah rencong ini? Taukah kita, mungkin semangat Lintang,ikal, dan teman-teman ada dalam diri anak-anak kita di bumi serambi mekkah ?. Kita wajib menyampaikan semangat “Laskar Pelangi” kepada anak-anak aceh, menjalarkan kobaran api perjuangan menempuh pendidikan kepada mereka.